Peran dan Partisipasi Mahasiswa dalam Kemajuan Literasi Masyarakat


Literasi merupakan fondasi utama dalam membentuk masyarakat yang cerdas, kritis, dan berdaya saing. Dalam konteks ini, literasi tidak hanya dimaknai sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, mengolah, dan menggunakan informasi secara efektif dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah tantangan rendahnya tingkat literasi di berbagai wilayah Indonesia, mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki peran strategis dalam mendorong kemajuan literasi masyarakat. Peran ini bukan hanya bersifat moral, tetapi juga merupakan bentuk konkret kontribusi mahasiswa terhadap pembangunan bangsa.

Mahasiswa, sebagai bagian dari kelompok intelektual muda, memiliki akses yang lebih luas terhadap sumber daya pendidikan dan informasi. Hal ini memberikan mereka keunggulan dalam menyerap ilmu pengetahuan, mengembangkan cara berpikir kritis, dan menyebarluaskan nilai-nilai positif kepada masyarakat. Dengan latar belakang pendidikan yang mereka miliki, mahasiswa seharusnya tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen dan penyebar informasi yang edukatif dan memberdayakan. Peran ini bisa dimulai dari lingkungan terkecil, seperti komunitas sekitar tempat tinggal, hingga pada cakupan yang lebih luas melalui platform digital.

Salah satu bentuk partisipasi mahasiswa dalam meningkatkan literasi masyarakat adalah melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Program Kuliah Kerja Nyata (KKN), misalnya, sering kali menjadi wadah mahasiswa untuk terjun langsung ke desa-desa dan wilayah terpencil guna mengenalkan pentingnya literasi. Dalam kegiatan ini, mahasiswa dapat menyelenggarakan kelas membaca untuk anak-anak, pelatihan keterampilan menulis untuk remaja, hingga penyuluhan penggunaan teknologi digital secara bijak bagi orang tua. Kegiatan-kegiatan semacam ini bukan hanya menumbuhkan semangat literasi, tetapi juga menjembatani kesenjangan informasi antara masyarakat urban dan rural.

Lebih dari itu, mahasiswa juga dapat memanfaatkan media sosial dan teknologi digital sebagai alat untuk menyebarkan konten-konten edukatif yang mendukung gerakan literasi. Di era digital seperti sekarang, mayoritas masyarakat, termasuk kalangan menengah ke bawah, memiliki akses terhadap media sosial. Mahasiswa bisa mengambil peran sebagai kreator konten positif yang mengedukasi, misalnya dengan membuat video pembelajaran singkat, infografis informatif, atau podcast diskusi ringan mengenai isu-isu sosial, ekonomi, dan budaya. Mereka juga dapat membuat blog atau situs literasi yang menyajikan artikel mudah dipahami oleh masyarakat awam. Dengan demikian, literasi digital pun dapat ditingkatkan secara paralel dengan literasi dasar lainnya.

Namun, tantangan tidak dapat dihindari. Salah satu hambatan utama adalah minimnya kesadaran dan motivasi sebagian mahasiswa untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan literasi masyarakat. Tidak sedikit mahasiswa yang masih memandang aktivitas sosial semacam ini sebagai beban tambahan di luar kewajiban akademik. Bahkan, ada pula yang menganggap kegiatan literasi sebagai hal yang tidak menarik atau kurang relevan dengan jurusan mereka. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara institusi pendidikan tinggi, pemerintah, dan organisasi masyarakat untuk menciptakan ruang-ruang partisipasi yang menarik dan bermakna bagi mahasiswa. Kampus, misalnya, dapat mengintegrasikan kegiatan literasi masyarakat sebagai bagian dari kurikulum berbasis proyek (project-based learning) atau sebagai syarat kelulusan tertentu.

Selain itu, organisasi kemahasiswaan juga memegang peranan penting dalam menggerakkan literasi di kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum. Himpunan mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dapat menjadi motor penggerak kampanye literasi dengan berbagai program inovatif seperti perpustakaan keliling, diskusi buku terbuka, lomba menulis tingkat desa, atau pelatihan menulis blog. Inisiatif-inisiatif semacam ini tidak hanya memperluas jangkauan literasi, tetapi juga membangun budaya akademik yang kuat di kalangan mahasiswa itu sendiri. Program-program ini juga mampu menciptakan jejaring antar mahasiswa dari berbagai bidang yang memiliki visi dan semangat serupa dalam memajukan masyarakat.

Perlu disadari pula bahwa keberhasilan mahasiswa dalam mengangkat literasi masyarakat sangat bergantung pada pendekatan yang digunakan. Pendekatan yang bersifat partisipatif, inklusif, dan kontekstual jauh lebih efektif dibandingkan pendekatan yang bersifat instruksional dan satu arah. Artinya, mahasiswa perlu terlebih dahulu memahami kondisi sosial dan budaya masyarakat yang menjadi sasaran program literasi, agar kegiatan yang dilakukan relevan, dapat diterima, dan berdampak nyata. Hal ini menuntut mahasiswa untuk belajar menjadi komunikator yang baik, fasilitator yang tangguh, dan pembelajar yang rendah hati. Kesediaan untuk mendengarkan dan belajar dari masyarakat merupakan kunci keberhasilan program literasi berbasis komunitas.

Tidak kalah penting, mahasiswa juga harus menanamkan kesadaran bahwa literasi merupakan hak setiap individu dan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga pendidikan. Dengan mengusung semangat kolaborasi dan solidaritas, mahasiswa dapat mengajak berbagai elemen masyarakat seperti guru, tokoh agama, pemuda lokal, hingga pelaku UMKM untuk bersama-sama menciptakan ekosistem literasi yang berkelanjutan. Kolaborasi ini menjadi kunci agar gerakan literasi tidak hanya bersifat temporer, tetapi mampu melahirkan perubahan jangka panjang. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula dampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat.

Pada akhirnya, partisipasi mahasiswa dalam meningkatkan literasi masyarakat bukan hanya sebuah pilihan, tetapi merupakan kebutuhan dan panggilan zaman. Di tengah arus informasi yang begitu deras dan sering kali membingungkan, peran mahasiswa sangat dibutuhkan sebagai penunjuk arah dan penjaga kualitas informasi. Mereka adalah jembatan antara dunia akademik dan masyarakat luas, yang mampu membawa perubahan melalui pengetahuan, semangat, dan dedikasi.

Kemajuan literasi masyarakat adalah pondasi bagi kemajuan bangsa. Tanpa masyarakat yang melek literasi, demokrasi akan rapuh, pembangunan akan pincang, dan generasi muda akan kehilangan arah. Oleh karena itu, mari kita dorong mahasiswa untuk tidak hanya belajar demi dirinya sendiri, tetapi juga untuk mencerahkan sekelilingnya. Karena di tangan mahasiswa-lah, cahaya literasi dapat menembus kegelapan ketidaktahuan dan ketertinggalan.


Diana Amelia (24311072) 

Comments

Popular posts from this blog

SRS fOR CASHIER PAYMENT TRANSACTION APPLICATION : A DIGITAL SOLUTION FOR MODERN BUSINESSES

Silaturahmi